pada kemarau yang lupa turun hujan,
daun-daun pun runtuh perlahan–
sunyi mengapurkan bumi.
maka kutanam benih di ladang darahku;
meski tanah retak dan haus,
takkan kulepas denyut rasa ini.
Jangan salahkan aku–
akulah musafir yang dirundung rindu;
rindu yang meneguk kesadaranku
hingga aku mabuk,
lupa malu,
dan menafikan batas antara hujan dan kemarau
seakan alam pun turut gelisah.
akulah musafir yang dirundung rindu;
rindu yang meneguk kesadaranku
hingga aku mabuk,
lupa malu,
dan menafikan batas antara hujan dan kemarau
seakan alam pun turut gelisah.
Aku tersedu,
menanggung beban asmara yang merayap
seperti anggur yang menipu lidah:
tak ada yang memahami nikmatnya
kecuali yang pernah tergelincir ke dalamnya.
Akulah gila,
gila kepada bayang yang sesaat
menyelinap ke sunyiku
hingga air mata berubah darah,
semerah nil yang pasang.
menanggung beban asmara yang merayap
seperti anggur yang menipu lidah:
tak ada yang memahami nikmatnya
kecuali yang pernah tergelincir ke dalamnya.
Akulah gila,
gila kepada bayang yang sesaat
menyelinap ke sunyiku
hingga air mata berubah darah,
semerah nil yang pasang.
Kapan dapat kubenamkan diriku
ke pelukan syahdu itu–
cahaya yang mengukir awan,
menancap di puncak mustawan,
menggetarkan alam malakut,
lalu seketika panas menjelma hujan
mengguyur ladang petani;
disemai benih unggul di tegal, di sawah,
juga di tanah-tanah paling tandus.
ke pelukan syahdu itu–
cahaya yang mengukir awan,
menancap di puncak mustawan,
menggetarkan alam malakut,
lalu seketika panas menjelma hujan
mengguyur ladang petani;
disemai benih unggul di tegal, di sawah,
juga di tanah-tanah paling tandus.
Dari yang kusemai tumbuh daun pesona:
bunga-bunga warna-warni
berbuah ranum seperti gadis mesir–
beralis bulan sabit
berwajah purnama,
menari lembut di padang pasir.
bunga-bunga warna-warni
berbuah ranum seperti gadis mesir–
beralis bulan sabit
berwajah purnama,
menari lembut di padang pasir.
Lalu biji yang kutanam
menjadi kidung bulat berlumur cahaya;
ia menari dalam zikir tersembunyi,
menggelegar di ruang rasa,
menjemput cinta di puncak rindu
tanpa batas musim,
hingga nikmat surgawi tumpah.
Wahai kekasih kalbu,
apa arti surga dibanding cintamu?
andai kusuguhkan surga sekalipun,
biarlah ia merana
asal aku dapat memelukmu,
bercumbu di atas divan mutiara
dalam kamar teduh bertabur cahaya temaram
di kota tercantik ciptaan takdir.
Duhai kekasih hati…
terimalah rinduku
dengan lembut tanganmu.
Amin.
Sumenep, 17 November 2017
Tags
Puisi

WhatsApp