=== Tagline Nurul Jadid adalah Membina generasi berdaya, berilmu, berakhlak, dan selangkah lebih maju ===

TAK SEINDAH HASRAT

 (Diambil dari Kisah Nyata Perjalanan Hidup Seorang Santri)

Oleh: Maesa Rahman

Senja itu…
tak seperti biasanya, Dendy duduk termenung di serambi rumahnya. Pandangannya kosong, sejauh langit yang tak bertepi. Ada sayatan luka yang menganga di hatinya. Rokok Alami di tangannya terus mengepulkan asap yang berputar, bagai pikirannya yang tak menentu.

Tak seorang pun tahu, mengapa akhir-akhir ini Dendy menjadi pendiam. Padahal, di kalangan teman-temannya, ia dikenal sebagai sosok yang hangat, humoris, dan kharismatik.
 “Ah, kenapa nasibku begini?” gumamnya lirih.
“Haruskah kegundahan ini kusimpan selamanya? Aku ingin orang tuaku tahu… tapi aku tidak yakin mereka bisa mengerti isi hatiku.”

“Dendy, makan dulu, Nak. Seharian kamu belum menyentuh nasi,” suara ibunya lembut, penuh kasih.
“Nggak, Bu,” jawab Dendy singkat.
“Kenapa, Den? Kamu sakit?”
“Enggak, cuma... nggak selera.”
“Emangnya apa yang kamu pikirin?”
“Entahlah, Bu... Dendy juga nggak ngerti sama perasaan sendiri.”
Ibunya hanya terdiam. “Ya sudah, nasinya di meja makan,” ujarnya dengan sejuta tanya di matanya.
Hari pun berlalu cepat, maghrib datang membawa seruan azan dari masjid dekat rumah. Tapi Dendy masih tak beranjak dari tempat duduknya. Teman-teman sekampung heran,

dia bukan lagi Dendy yang dulu.
Dulu, di pesantren, dia dikenal sebagai santri teladan. Sebelum azan berkumandang, ia sudah berangkat ke masjid dengan baju koko krem khasnya, sorban hijau melilit di bahu, dan tasbih selalu dalam genggaman.

Kini, alunan azan yang lembut tak lagi menggugah hatinya. Ia duduk diam, seperti orang yang kehilangan arah pulang. Banyak orang kampung prihatin  beberapa hari ini, Dendy tak terlihat di masjid.

Subhanallah... ada apa dengan Dendy?

Kidung Burdah yang dulu begitu ia cintai kini hanya tinggal gema masa lalu.
Padahal dulu, setiap baitnya ia lantunkan dengan suara merdu dan penuh rasa;
menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya.

 أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ

Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam sana,
engkau deraikan air mata bercampur darah duka?
Kini, alunan itu sirna; berganti lagu cinta dari Vokalis Vagetos yang sering ia bisikkan sendiri:
“Betapa aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku...
Betapa aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu...”

Ya, Dendy sedang mabuk asmara.
Namun cintanya harus disembunyikan, tak boleh ada yang tahu, bahkan orang tuanya sekalipun.
Wajah Raini, si kembang desa, selalu hadir dalam kesendiriannya.
Ia mencintai Raini sepenuh hati, meski belum pernah mengungkapkan.
Tapi hatinya ragu, “Pantaskah aku untuknya? Maukah dia menjadi penyambung tulang rusukku yang hilang?”

Ia teringat masa mudanya 
sejak SD, SMP, hingga usia dua puluh dua tahun di Madrasah Aliyah; belum pernah ia merasakan gejolak seperti ini.

Temannya pernah berkata, “Cinta itu indah.”
Namun baginya kini, cinta justru terasa menyiksa.

Malam kian larut.
Udara dingin menembus dinding kamar.
Jam berdentang tiga kali, pukul tiga dini hari.

Dendy sadar, seharian ia belum makan. Tapi rasa lapar kalah oleh gelora batin.
Wajah Raini menari di pelupuk matanya.

“Raini... tak ada wanita lain yang mampu menggoyahkan imanku.
Engkau laksana embun yang menyejukkan dahagaku di tengah terik.”

Pagi datang, membawa cahaya di celah jendela.
Dendy bertekad. Hari ini, ia akan bicara dengan kedua orang tuanya.
Dengan langkah ragu, ia mendekati mereka yang sedang duduk di teras rumah.
“Ayah, Ibu... ada hal yang ingin Dendy bicarakan.”
“Tumben, Nak,” sahut ibunya lembut. “Ada apa, sayang?”
“Dendy sudah dewasa. Dendy ingin punya pasangan hidup.”
“Tentu, Ayah dan Ibu merestui. Siapa dia?”
“Raini, Bu...”
“Raini? Raini penyanyi electone itu?” tanya ayahnya dengan nada meninggi.
“Betul, Yah.”

Suasana seketika berubah menjadi tegang.
Ayah dan ibunya saling pandang - wajah mereka mengeras.
Mereka menolak.
Mereka tak ingin anaknya, seorang ustaz yang kharismatik, bersanding dengan wanita yang dikenal sering tampil di panggung hiburan malam.

Namun Dendy mencoba meyakinkan:
“Aku mencintainya, Bu. Jika benar dia bukan wanita baik-baik, biarlah aku yang membimbingnya. Bukankah pahala besar bila aku menuntunnya menjadi wanita salehah?”

“Cukup!” seru ayahnya keras.
“Itu hanya bisikan perasaanmu! Kau buta karena cinta! Ayah dan Ibu tidak merestui, titik!”
(Plak! Plak! Plak!)
Suara tangan menepuk meja memecah udara.
Bagai disambar petir, hati Dendy hancur.
Ia berdiri dengan mata merah.

“Dendy sudah dewasa, Yah, Bu. Dendy bisa menentukan hidup sendiri. Ini bukan zaman Siti Nurbaya! Jika Ayah dan Ibu tak merestui, Dendy akan pergi dari rumah ini!”

Hari itu, matahari terasa begitu panas,
sepahit hati Dendy yang baru saja patah.
Impian membangun mahligai cinta bersama Raini runtuh seketika.
Kenyataan hidup tak seindah hasrat dalam hatinya.
Namun waktu pelan-pelan menyembuhkan.
Ia menahan diri, memilih diam.
Ia sadar, cintanya pada orang tua harus lebih besar dari cinta pada siapa pun.
Dan pada suatu malam yang hening,
ia kembali teringat pesan gurunya saat pamit dari pesantren:

○ Surga itu di bawah telapak kaki ibumu, berbaktilah kepadanya.
○ Jadilah dirimu sendiri, jangan meniru siapa pun. Allah menilai hati, bukan rupa.
○ Jangan pernah merasa berhak menentukan siapa penghuni surga dan siapa penghuni neraka. Itu urusan Tuhan, bukan manusia.

Wasiat itu kini menjadi lentera jiwanya.
Dendy bangkit lagi.

Ia kembali menata diri, menghidupkan kembali Burdah dalam suaranya yang lembut.
Kini, ia bukan Dendy yang hancur oleh cinta,
melainkan Dendy yang menemukan dirinya kembali.
Apakah para pecinta mengira,
cintanya dapat disembunyikan di balik tembok rumah?
Dan mungkinkah cinta yang membara,
bisa disembunyikan dari pandangan Tuhan yang Maha Tahu?

T.A.M.A.T.

Talango, 2019

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
<p>GALERI YAYASAN NURUL JADID</p>

GALERI YAYASAN NURUL JADID

WhatsApp Icon WhatsApp