Wanita kerap disebut rumit, padahal yang sering berbelit justru cara manusia memperlakukan cinta. Sesungguhnya, wanita adalah cermin hati: ia memantulkan apa yang didekatkan kepadanya. Kejujuran akan kembali sebagai kesetiaan, perhatian menjelma kasih yang tumbuh, dan ketulusan berbuah ketenangan. Namun kebohongan, sekecil apa pun, akan kembali sebagai jarak—pelan, sunyi, tetapi pasti.
Dalam tatanan balaghah moral, hubungan antara pria dan wanita bukan relasi kuasa, melainkan relasi sebab–akibat etis. Jika seorang pria jujur, ia sedang menanam benih amanah; maka kesetiaan bukanlah tuntutan, melainkan konsekuensi. Jika ia perhatian, ia sedang merawat kelekatan; maka sayang bukanlah paksaan, melainkan kelanjutan. Cinta seorang wanita tidak lahir dari janji yang riuh, tetapi dari rasa aman yang konsisten.
Sebaliknya, kebencian tidak hadir sebagai letupan tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebohongan yang berulang, dari pengingkaran kecil yang dianggap remeh. Kebohongan merusak fondasi kepercayaan; dan ketika kepercayaan runtuh, kasih kehilangan rumahnya. Dalam etika relasi, kebohongan bukan sekadar pelanggaran kata, melainkan pengkhianatan makna.
Maka, mencintai wanita adalah latihan akhlak. Ia menuntut kejujuran sebagai bahasa, perhatian sebagai adab, dan tanggung jawab sebagai sikap. Pria yang matang tidak sibuk menuntut cinta, tetapi memperbaiki dirinya agar layak dicintai. Sebab cinta bukan hasil retorika, melainkan pantulan dari karakter.
Pada akhirnya, wanita tidak meminta kesempurnaan; ia meminta kehadiran yang jujur. Ia tidak menuntut kemewahan; ia mengharap ketulusan. Dan ketika cinta dijaga oleh etika, ia tidak hanya bertahan; ia bertumbuh, menjadi cahaya yang menuntun dua hati menuju kedewasaan.
by MER_Penyairjalanan
Tags
Puisi Prosa

WhatsApp