الأرملة حسها عذراء، فذلك فخر لها
تحافظ على كرامتها، وفي جمالها سرها
والعذراء حسها أرملة، فذلك إذلال لها
قد تركت حرمتها في طريق الفتنة أسرها
kawan,
inilah puisi jenaka yang berkisah
tentang—
janda rasa perawan,
itulah kebanggaan.
inilah puisi jenaka yang berkisah
tentang—
janda rasa perawan,
itulah kebanggaan.
ia menjaga kehormatan,
pada pesonanya, rahasia tersimpan
adalah awan yang menahan embun di tangan,
dan wangi yang tersenyum pada sunyi
dan perawan rasa janda,
itulah kehinaan.
ia campakkan mahkota di kabut hitam
seperti purnama yang terhijab
atau buah khuldi yang terlepas
Janda berjalan di pasar
seperti matahari melintas di antara awan,
menabur senyum pada setiap orang,
bercerita tentang martabat—kehormatan
menuntun orang cara menebar kesucian.
dan perawan berdiri di sudut-sudut, seperti angin tersesat,
tersenyum pada dirinya—
sebelum sempat ditertawakan dunia.
Tawanya adalah cermin retak—sebab nafs ammarah
hingga bumi terhentak—lalu bertanya:
“Ke mana hilangnya rahasia itu?”
angin menjawabnya: sirr itu hilang sebab kegelapan dan cahaya pun sirna.
janda rasa perawan, perawan rasa janda—
begitu kehidupan mengajarkan manusia
tentang penghambaan, keabadian, kebanggaan dan kehinaan.
sejatinya semesta sebuah panggung,
sedang kita hanyalah pelakon
yang tunduk titah Ki Dalang
dalam hikayat pewayangan
yang bertutur tentang pandawa
simbol kehormatan, dan kurawa lambang kehinaan
Siapakah kalian?
Apakah dara bening, yang madura bilang perawan tingting?
Apakah sosok janda yang isinya segar dan bening?
Ataukah perawan rasa janda yang tak lagi tinting?
Ataukah rahasia yang menari di antara keduanya?
Jawabnya ada pada rumput yang mengering.
Sumenep, 28 November 2025
by madri esa rahman
Tags
Puisi

WhatsApp